Senin, 30 Juni 2014
FF/LOVE IS A NIGHTMARE/ONESHOOT
Author : Monica Agtarina
Cast :
- Ken
- Sica (you)
Romance
Note :
FF ini terinspirasi dari "Eternity"-nya VIXX. Lagu yang paling aku favoritkan!!! ^.^v Ceritanya cukup klasik, tapi semoga kalian yang baca suka dengan FF ini. Amiinnn u,u Langsung saja! Cekidottt !!!!! \^o*/
FF ini terinspirasi dari "Eternity"-nya VIXX. Lagu yang paling aku favoritkan!!! ^.^v Ceritanya cukup klasik, tapi semoga kalian yang baca suka dengan FF ini. Amiinnn u,u Langsung saja! Cekidottt !!!!! \^o*/
Namaku Sica. Kehidupan yangpenuh dengan konflik dan kesendirian itu adalah kehidupanku. Aku terlahir dikeluarga ‘broken home’.
Sejak dibangku SD aku lebih memilih untuk tidak berteman dengan siapa
pun. Bagikuberteman adalah sesuatu yang menyebalkan dan akan semakin
membuat kehidupankusemakin buruk. Jika hari ini aku memiliki teman,
suatu saat nanti mereka akanmeninggalkanku begitu saja. Sama seperti
ayah dan ibu ku. Mereka meninggalkankubegitu saja tanpa menunjukkan apa
itu kasih sayang. Mereka sangat egois.
Memang sangat sulit memilikikehidupan tanpa teman. Dengan itu aku ingin
berteman dengan sesuatu yang kuat dantak akan dapat meninggalkan ku
selamanya. Karena itu aku memilih boneka batuuntuk menjadi temanku.
Setiap saat dia menemaniku kemana saja dan selalumendengarkan semua
ceritaku. Dia tidak bernyawa, dan tak akan dapatmeninggalkanku begitu
saja.
Karena tingkahku yang terbilanganeh
ini lah di mata orang-orang sekelilingku aku di anggap sebagai orang
gila.Apa pun yang aku lakukan selalu bersama boneka batu. Tanpa kerja
kerassedikitpun dengan sendirinya aku sudah berhasil menjauhi kehidupan
tanpamereka, orang-orang yang suatu saat nanti akan membuatku terluka
lagi.
Hari ini, aku memilih
untukberjalan kaki untuk pulang dari kampusku. Bukan karena uang untuk
membayarongkos bus yang tak cukup, tetapi aku hanya malas untuk bertemu
dengan pamanyang selalu ada di kursi bus paling depan dengan memegang
setir menyapa dantersenyum kepadaku walaupun setiap itu aku tak membalas
senyumannya. Hal inisering terjadi di saat perasaan ini tiba-tiba badmood tanpa sebab. Memang setiap hari aku tampak badmood, tapi ini lebih dari biasanya.
Jarak antara kampus dan rumahkumemang tidak sangat jauh. Kira-kira
hanya 1 km saja. Diperjalanan, tidakbiasanya aku menghampiri ke tempat
lain selain rumahku, kampusku, ataupun tokosebelah rumahku, tetapi hari
ini cukup berbeda. Tiba-tiba langkahku menujubegitu saja ke taman
sebelah sungai Han. Perasaan ini sangat aneh ku rasakan.
Ku lihat sekelilingku semuatampak indah. Selama 3 tahun aku melewati
jalan ini dan aku tidak tahu bahwaada tempat seindah ini. Ku lanjutkan
langkahku, ku pilih bangku di sebelahpohon besar yang menghadap sungai
indah itu. Sungguh tenang di sini. Kupejamkanmataku untuk lebih
merasakan ketenangan ini. Ku merasakan sejuknya hembusanangin yang
melewati tubuhku begitu saja. Tidak jauh dari tempat dudukku,terdengar
suara musik yang memecah ketenangan ku. Musik yang ku dengar memangtidak
sangat mengganggu. Musik itu sangat indah bila aku dapat
mendengarkannyalebih dekat lagi. Sejenak aku menikmati musik itu.
Lama-kelamaan musik itumendekatiku. Ku buka mata ini dengan niat untuk
mencari dari mana sumber musikitu berada.
Setelah aku membuka lebar mataini, tiba-tiba disebelahku sudah ada seorang laki-laki berwajah tampan dengan headphone-nya di kepala. Suara musikyang ku dengar tadi ternyata berasal dari headphone-nyayang
disetel dengan kencang sehingga terdengar ke telingaku. Aku pun
terheran-heranmelihatnya. Kenapa tiba-tiba dia duduk di sini. Apakah dia
tak melihatku disini?
“Apakah aku mengganggumu ?”,tanyanya sambil melepaskan headphonedari kepalanya.
Aku hanya diam melihatnya.“Jelas mengganggu !”, ocehku dalam hati.
Dia tersenyum padaku. Senyumanitu sangat manis.
“Sekarang dia tersenyum padaku ?Apa-apaan makhluk ini !”, sekali lagi aku mengoceh dalam hati.
“Kau tahu ? Di saat hatikusedang tak enak aku selalu duduk di bangku
ini dan mendengarkan musik ini, bisadi bilang setiap hari aku duduk di
sini”, jelasnya tiba-tiba.
“Siapa yang
peduli tentang itu !Hah?! Duduk di sini setiap hari ? Apakah dia
penunggu bangku ini ?”, jawabkudalam hati. Ku palingkan wajahku
menghadap sungai Han dan tak memperdulikankeberadaan laki-laki aneh itu.
“Sungai itu indah, kan ? Tetapiakan lebih indah bila kau sambil mendengarkan musik ini”, tiba-tiba saja headphone-nya sudah menempel ditelingaku dan dia tersenyum lagi kepadaku. Dan senyuman itu lebih manis darisebelumnya.
Aku terkejut dengan itu. Inginku lepaskan headphone itu danmembantingnya ke tanah.
“Manusia seperti apa dia ini ?!Apakah dia habis terjatuh dari pesawat
yang kalah perang ? Apakah dia adalahseorang siluman yang tiba-tiba
muncul dari bawah tanah ini ? Entahlah !
Namun niat
itu ku urungkan.Musik yang terdengar indah tadi terdengar lagi di
telingaku. Dan itu sangatjelas dari sebelumnya. Ku nikmati musik itu
kembali. Yang terdengar hanya lahalunan gitar saja dan tak ada satu bait
kata-kata pun di sana. Sangat indah. Kupejamkan lagi mataku untuk
menikmatinya lebih dalam lagi. Perasaan ini begitusangat aneh. Hal ini
terjadi untuk pertama kalinya. Baru pertama kali akumendengarkan musik
langsung ke telingaku, baru pertama kali aku melihatsenyuman indah
selain dari senyuman paman supir bus, dan baru pertama kalinyaaku
merasakan ketenangan yang luar biasa, sungguh membuatku nyaman.
“Namaku Ken ! Apakah kau masihmengingatku ?”, dengan senyuman itu lagi
dia menjulurkan tangannya sebagaitanda ingin lebih akrab lagi denganku.
“Mengingatmu?”, tanyaku herankepadanya.
“Kita pernah satu kelas saat SMA dulu. Apakahkau masih ingat, Sica ?”, selipnya tiba-tiba.
“SMA ? Satu kelas ?”, akumengingat keras untuk mencari wajah seperti ini di pikiranku.
“Benar dugaanku bahwa kau takakan mengingatku”, selipnya lagi sebelum
aku menemukan mukanya di pikiranku. Sambilmengambil paksa tangan kananku
dia membalas uluran tangannya yang sudah lamamenunggu agar tanganku
menjabat tangannya.
“Tapi, jjinjja (serius)?
Kaubenar-benar tak mengingatku? Dulu aku yang duduk di belakang bangkumu
itu !”sambungnya lagi agar aku bisa mengingatnya.
“Mmm… kau ? kau laki-laki yangberkaca mata besar itu ?”, tiba-tiba aku
teringat pada anak laki-laki yangberkaca mata besar dengan rambut
belahan pinggir. Kulitnya saat itu tidakseputih dan sebersih ini.
Tubuhnya juga tak setinggi dan setegap ini.
“Akhh… akhirnya kaumengingatnya. Kau sama sekali tak berubah dari dulu.
Tampak sama persis dengankau yang selalu pendiam di masa SMA dulu. Tapi…
tidak tidak tidak ! Mmm… adasedikit perubahan…”, dengan salah satu
matanya yang di sipitkan dengan jaritangan yang membentuk persegi
seperti pelukis hebat dia memperhatikan wajahku.
Wajahku mulai memerah karenatingkah konyolnya itu. “Perubahan ? Perubahan apanya ?”, tanyaku heran.
“Mmm… kau lebih tampak cantikdari yang dulu…”, rayunya dengan senyuman khasnya itu.
“Apa ini ? Perasaan apa ini ?Kenapa jantung ini berdetak kencang ? Apa
aku sedikit demam ?”, tanyaku dalamhati. Aku terdiam kaku di depannya.
Bodoh. Aku lebih tampak seperti orang bodohbila begini.
“Mukamu memerah ? Apakah kaudemam ?”, tanyanya khawatir dengan meletakkan punggung tangannya ke dahi ku.
“Akhh ! Tidak ! Aku baik-baiksaja !”, jelasku sambil menepis tangannya.
Dan tanpa aku sadari untuk pertamakalinya aku tersenyum lepas kepada
orang lain.
***
Hari itu pun berlalu, satuminggu, satu bulan, satu tahun telah berlalu.
Namun ku lalui bukan dengankebiasaanku seperti dahulu.
Selama
ini Ken menggantikanboneka batuku. Dia mengajariku arti cinta yang
sesungguhnya. Hhh… akumerasakannya juga. Dan akhirnya aku menjadi
manusia seutuhnya.
Ken membantuku untuk
mengertibahwa setiap manusia di bumi ini akan pindah ke tempat yang
lebih indah danabadi lagi. Mereka bukan meninggalkanku. Tapi selalu ada
di dalam hatiku danaku juga selalu ada di hati mereka. Selama ini orang
tua ku selalu menemanikuwalaupun aku tak tampak mereka. Dan aku yakin
bahwa mereka yang meninggalkankusedang menungguku di tempat abadi itu.
Mereka mengharapkan bahwa aku di siniharus hidup dengan sebaik-baiknya.
Mereka telah menyiapkan semuanya untuk dapatbersenang-senang denganku
selamanya di sana.
***
Di
hari kemudian, Ken datang kerumahku. Seperti biasanya aku selalu
menyambutnya dengan senyuman terindah. Namun Ken di hari ini
tidakseperti biasanya.
“Ken ?! Kau kenapa ?”, tanyaku khawatir kepadanya.
Tanpa jawaban apapun Kenterjatuh di hadapanku. Aku terkejut dan langsung membawanya masuk ke dalamrumah.
“Ken ? Apakah kau sakit ?”. MataKen tampak ingin terbuka tetapi tertutup kembali.
Ku tepuk-tepuk pipi Ken yangdingin itu. Ku dengarkan denyut jantungnya
dengan mendekatkan telingaku kedadanya. Ku dengarkan suara jantung yang
tak begitu kencang. Tiba-tiba kumerasakan jemari mengelus-elus setiap
helai rambutku.
Ken menghelakan nafasnya. Aku ingin bangun tetapi jemari Kenmenahannya.
“Kau harus tetap seperti ini !”.
Setelah mendengar kata itutubuhku langsung gemetar.
“Maksudmu?”, tanyaku takut.
“Aku… aku akan menunggumu disana. Kita akan bahagia bersama. Jangan
takut dengan kegelapan ini. Aku selalumemegang tanganmu erat. Aku selalu
bersamamu.”, suara Ken terdengar berat.
“Apa
ini ?”, aku mencoba bangunlagi. Sepertinya aku pernah mendengar
kata-kata itu. Tapi kepalaku tiba-tibamerasa pusing. Dan aku tidak
memperdulikannya.
“Ken ? Ken ? Kau harus
bangun !Kau harus menemaniku hari ini ke taman. Kita dengarkan musik itu
lagi sambilmenikmati hembusan angin sungai Han. Berikan aku senyuman
gilamu itu lagi ! Ken?!”, ajakku manja memaksa Ken untuk tidak malas
seperti ini.
Tanpa jawaban Ken hanyamenatapku dengan mata yang berkaca-kaca. Diambilkannya headphone yang biasa dia pakaikan kepadaku di ransel birudongkernya dengan masih dalam posisi terbaring di sofa. Di pakaikannya headphone itu ke telingaku. Terdengarlahsuara musik kesukaanku itu. Lalu Ken tersenyum kepadaku.
“Ken ? Apakah kau sakit ? Kausakit apa? Bagaimana rasa dari sakitmu itu?”, tanyaku dengan suara gemetar.
“Gwenchana (tak apa-apa)…”,jawabnya singkat dengan senyuman manis itu lagi.
“Lalu ?”, tanyaku penasaran.
“Dengarkan aku”, Ken melepaskan headphone-nya dari telingaku.
“Aku mempunyai ketakutan danmimpi yang kelewat buruk, aku pindah ke
tempat yang amat jauh.” , Ken memegangerat kedua tanganku.
“Sstt… Tidak ! Itu adalah mimpiyang tidak masuk akal karena tidak akan
ada cara kau akan meninggalkanku. Danaku tidak akan kehilanganmu !”, aku
memotong perkataan Ken itu. Aku tidak maumendengarkannya lebih lanjut
lagi. Ku lepaskan pegangan tangan Ken.
“Jangan pernah
pergi darikuwalaupun hanya sedetik ! Aku akan menerima apa pun itu
darimu walaupun ituadalah hal yang terkecil. Aku tidak ingin melihat
diriku tanpamu walau ituhanya dalam mimpi, bahkan jika mimpi itu adalah
mimpi buruk”, lanjutku.
Ken tersenyum pada
ku. “Aniya (tidak)... Akutidak akan meninggalkanmu. Aku hanya ingin
pergi sebentar. Aku akan menunggumudi sana.” Ken mengusap rambutku dan
memegang kembali tanganku yang gemetaranini.
“Percayalah ! Jebal (tolong)…berteman lah dengan orang lain. Jangan
pernah takut dengan mereka. Mereka akanmenolongmu di saat kau sedih.
Berbaliklah untuk tersenyum bila mereka memberimusenyuman. Aku
mencintaimu…”, Ken memohon sambil mengeluarkan air matanya.
Aku tidak percaya ini. Hanya diayang aku punya di bumi ini. Kenapa dia ingin pergi.
Ku balikkan tubuhku agar akutidak dapat melihatnya menangis dan menutup
telingaku agar tak mendengarpermintaan bodoh itu.
Suara itu menghilang dengantiba-tiba. Aku merasa khawatir dengan itu.
Ku berbalik ke belakang. Benar… diamenghilang. Suara dan senyuman manis
itu menghilang.
“Ken?! Ken?! Kau dimana?Ken!!!!!!”, aku menangis dan berteriak keras berharap Ken bisa datang kembali.
Malam yang kejam! Aku menutupmataku kembali dan mengembalikanku ke
dalam mimpi manis itu lagi. Mimpi yangabadi, yang tak akan membuatku
terbangun lagi.
The End.... And Thank you ^3^~
Langganan:
Posting Komentar
(Atom)

Good story~~
BalasHapusaku suka karakter ken disini dan aku berharap happy ending tapi ternyata salah kaprah TwT
nda papa deh, Tapi Nasib sica selanjutnya bagaimana :''3
Kuharap ada sequelnya thor *^*
and anyway, Im new Readers here^^ salam kenal~